Anna Ida Sunaryo Purwiyanto and Fitri Agustriani
ILMU KELAUTAN Juni 2014 Vol. 19(2):81-87
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/ijms
Abstract
Sembilang National Park is one of the national parks which is located in South Sumatera and became the largest mangrove area in western Indonesia. Most of the mangroves area in this national park has been experiencing conversion to be tidal ponds. This has resulted in concerns on mangrove forest destruction in the park. One of the efforts to maintain mangroves area is by applying silvofishery system, which is mangrove planting and cultivation of milkfish in ponds performed simultaneously. This study aims to investigate the water quality and nutrient condition in the ponds in the area of silvofishery restoration at Sembilang National Park. The study was conducted by purposive sampling method in the silvofishery ponds, non-silvofishery ponds, and river water bodies throughout the park. Measurements conducted on water quality parameters and nutrient content, especially nitrate and phosphate. The results showed that the presence of mangrove in the ponds area is able to improve the oxygen content and pH of pond water. Mangroves also demonstrated the ability to bind nitrates which indirectly will prevent the pond water from pollution. However, the high phosphorus content showed that young mangrove plants in the restoration area have not been able to significantly bind the of this nutrient. The results of this study showed that mangrove forests are very beneficial for aquaculture activities because of its ability to absorb nutrient pollutants.
Keywords: silvofishery; ponds; nitrate; phosphate; Sembilang National Park
Tampilkan postingan dengan label oceanography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oceanography. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Desember 2014
Jumat, 22 November 2013
Potensi Akumulasi Logam Cu di Perairan Timur Muara Sungai Banyuasin, Sumatera Selatan
Anna
Ida Sunaryo Purwiyanto dan Susi Lestari
Seminar Nasional Kelautan & Perikanan
“Pengembangan IPTEK Kelautan & Perikanan dalam
Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Timur Indonesia”
Kupang, 12 Oktober 2013
ABSTRAK
Wilayah
perairan timur Muara Sungai Banyuasin merupakan salah satu pusat penangkapan
sumberdaya perikanan di Sumatera Selatan, tetapi muara ini juga menjadi salah
satu muara sungai terbesar yang tidak luput dari aktifitas transportasi dan
buangan limbah industri dan domestik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
tingkat konsentrasi logam Cu pada perairan timur Muara Sungai Banyuasin,
terutama pada bagian dasar perairan, sedimen, dan biota bentik (yaitu kepiting)
yang hidup di muara ini dan potensi terjadinya bioakumulasi Cu pada kepiting.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2012, dengan titik sampling
mencakup bagian luar muara (stasiun 1), bagian tengah muara (stasiun 2) dan
bagian dalam muara (stasiun 3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan
logam Cu tertinggi pada dasar perairan adalah pada stasiun 1 (0,174 ppm) dan
terendah pada stasiun 2 (0,003 ppm). Pada bagian sedimen, Cu tertinggi terdapat
di stasiun 3 (0,1113 ppm) dan terendah pada stasiun 1 (0,0387 ppm). Sedangkan
pada daging kepiting, Cu tertinggi ditemukan pada kepiting di stasiun 1 (0,3667
ppm) dan terendah pada kepiting stasiun 2 (0,2450 ppm). Hasil analisa regresi
menunjukkan bahwa kandungan Cu pada daging kepiting memiliki hubungan keeratan
lebih tinggi terhadap konsentrasi Cu pada dasar perairan (R2 = 0,981) dibandingkan terhadap Cu pada
sedimen (R2 = 0,395).
Perhitungan BCF menunjukkan adanya kemampuan akumulasi logam Cu pada daging
kepiting namun dengan kategori akumulasi rendah.
Kata kunci : tembaga (Cu), kepiting, BCF,
perairan timur Muara Sungai Banyuasin
ABSTRACT
East coast River estuary of Banyuasin is one of thecapture fishery
resources in South Sumatra province, but this estuary also become one of the
largest estuaries which has impact from transport activity, domestic waste and
industrial waste. The purpose of this research is to find out the level of
concentration of Cu in the estuary of the east coast River Banyuasin,
especially in the bottom waters, sediments, and benthic biota (i.e crab) who
live in this estuary dan the accumulation potention of Cu in crabs. The
research was conducted in October 2012, with tree sampling points outside the
estuary (station 1), the middle of the estuary (station 2) and the inside of
the estuary (station 3). The results showed that the highest Cu content in the
waters is at station 1 (0.174 ppm) and the lowest at station 2 (0.003 ppm). In
the sediments, the highest Cu in station 3 (0.1113 ppm) and the lowest at
station 1 (0.0387 ppm). While in the crab meat, crab found in the highest Cu at
station 1 (0.3667 ppm) and the lowest at station 2 crab (0.2450 ppm). Results of
regression analysis showed that the Cu content in the crab meat has a higher
relationship closeness of Cu concentration in the waters (R2 = 0.981) compared
to Cu in sediments (R2 = 0.395). BCF calculation shows the ability of Cu accumulation in the crab meat,
but with a low accumulation category.
Key words : copper (Cu), mud crab, BCF, east side of River Banyuasin Estuary
Selasa, 30 April 2013
Korelasi Konsetrasi Logam Berat Cu Pada Daun Avicennia sp Terhadap Gonad Scylla serrata di Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan
Anna Ida Sunaryo Purwiyanto
Jurnal Penelitian Sains 15 (4) : 15432-160 -
15432-163
Intisari: Logam berat Cu
merupakan salah satu jenis methalothionein esensial yang sangat mempengaruhi
aktifitas reproduksi organisme dan akan bersifat toksik bila konsentrasinya melebihi ambang batas. Secara alami, logam Cu tersebar di
berbagai ekosistem, baik ekosistem perairan maupun sedimen, salah satunya
adalah ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove merupakan salah satu perangkap alami Cu yang akumulasinya akan mempengaruhi
biota yang berasosiasi dengan ekosistem ini, termasuk juga kepiting yang
memanfaatkan daun mangrove sebagai pakan alami. Organ pada Scylla serrata yang paling terpengaruh adalah gonad, sehingga adanya kandungan Cu pada daun mangrove akan mengakibatkan
gonad juga terkontaminasi. Hubungan akumulasi pada mangrove tersebut diduga memiliki korelasi positif dengan akumulasi pada organ reproduksi kepiting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa korelasi
konsentrasi Cu pada daun Avicennia sp dan Cu yang terdapat dalam gonad kepiting. Pengukuran konsentrasi Cu
dilakukan dengan menggunakan metode AAS-flame. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kandungan logam Cu pada gonad jantan (0,0064 ppm) ternyata lebih tinggi
dibandingkan gonad betina (0,0059 ppm) dan konsentrasi Cu tersebut memiliki
kaitan yang cukup tinggi terhadap konsentrasi Cu yang terkandung dalam daun
mangrove api-api (0,00075-0,0022 ppm).
Kata Kunci: Cu, gonad, Scylla serrata, daun Avicennia sp
Abstract: Heavy metals Cu is one of the essential methalothionein which influence reproductive activity of organisms and will be toxic when its concentration exceeds a threshold. Naturally, Cu spread in various ecosystems, both aquatic and sediment ecosystems, one of example is a mangrove ecosystem. Mangrove ecosystem is one of the natural trap which accumulate Cu and affecting associated organism, including mangrove crabs that use leaves as a natural food. One of the most affected organ of Scylla serrata is the gonad, so that the Cu content in the leaves of mangroves will result contaminated in gonads. These relationship suspected has a positive correlation. Therefore, this study aims to determine the correlation between Cu which contains in the leaves of mangroves and Cu contained in the gonad crab. Cu concentration measurements performed using AAS-flame method. The results showed that Cu metal content in the male gonads (0,0064 ppm) were higher than female gonads (0,0059 ppm) and those Cu content has a high correlation to the concentration of Cu contained in mangrove leaf ((0,00075-0,0022 ppm).
Keywords: Cu, gonad, Scylla serrata, Avicennia sp leaves
Email: anna.ida3@gmail.com
Senin, 22 April 2013
Principles of Ion exchange chromatography
Ion exchange atau bahasa indo nya pertukaran ion sering terjadi, baik di perairan maupun di sedimen. Proses ini mengakibatkan mineral yang terdapat di perairan atau sedimen menjadi bervariasi, bahkan bila pertukaran ion yang terjadi cukup tinggi, tidak menutup kemungkinan dominasi mineral pada suatu lingkungan juga akan mengalami perubahan.
Semoga video ini membantu memahami prinsip terjadinya ion exchange...
Semoga video ini membantu memahami prinsip terjadinya ion exchange...
Label:
chemical,
oceanography
Lokasi:
Palembang, Indonesia
Kamis, 18 April 2013
Vertical Distribution and Flux of Nutrients in the Sediments of the Mangrove Reclamation Region of Muara Angke Kapuk – Jakarta
Anna Ida Sunaryo Purwiyanto1,
Tri Prartono2), Alan Frendy Koropitan2)
1*). Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA – Universitas Sriwijaya, Palembang,
Sumatera Selatan 30662, Indonesia
2). Departemen Ilmu Kelautan, FPIK – IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680,
Indonesia
ABSTRACT
The reclaimed mangrove estuary in Muara Angke Kapuk is a reclaimed area that has
not evaded the impacted of pollution and waste in the areas surrounding
Cengkareng, Jakarta. This is apparent from the fact that almost all sediments
under the mangrove trees are buried
under heaps of plastic trash. However, the reclaimed region still has
variety of organism, which indicating that the region still has an internal carrying
capacity, especially nutrients from sediment. The purpose of this research was to examine the condition
of sediment nutrients in this mangrove reclamation region. The research was conducted by taking
water samples using a modification of the stratified cup at a sediment depth of
0-15 cm with depth intervals of 2.5 cm, and taking sediment samples using the sediment ring. Pore water samples
were measured for dissolved oxygen (DO) and concentrations of ammonia, nitrite,
nitrate, and phosphate. Sediment samples were used to obtain porosity values.
The data obtained is used to make vertical
concentration profiles and analysis of vertical nutrient flux. Vertical
nutrient flux analysis was performed with the aid of QUAL2K software version
2.11. The results showed different vertical distributions and flux of
nutrients, where influx for ammonia and phosphate and an increase in
line with increasing sediment depth, while nitrate efflux and a decreased concentration. The flux calculation of nitrite as transitory nutrient was not done, but the concentration
decreased after a depth of 2.5 cm. This indicates that the high contamination
on the surface does not prevent the natural chemical processes so the reclaimed region can still
provide nutritional support for its organism.
Keywords : porewater, nutrient, fluxes,
sediment, Muara Angke Kapuk
Makara Journal , 2012, 16(3) : 197-202
http://journal.ui.ac.id/index.php/science/article/view/1482/1280Daya Serap Akar dan Daun Mangrove Terhadap Logam Tembaga (Cu) di Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan
Maspari Journal, 2013, 5 (1), 1-5
ABSTRAK
Perairan Tanjung Api-Api merupakan suatu ekosistem penting di
wilayah Sumatera Selatan. Perairannya yang menjadi jalur sibuk berbagai jenis
kapal dan aktifitas perikanan, serta keberadaan hutan mangrove yang masih tebal
menjadikan perairan ini sebagai ekosistem yang unik. Aktifitas yang dilakukan
di perairan Tanjung Api-Api ini tentu saja akan menghasilkan limbah dan
mempengaruhi kondisi mangrove yang terletak tepat di sepanjang perairan. Salah
satu limbah yang cukup berbahaya bagi ekosistem mangrove adalah tembaga (Cu)
mengingat peran Cu bagi metabolisme tumbuhan yang akan menyebabkan kematian
bila jumlahnya berlebih . Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada
fungsi mangrove dalam menghadapi limbah Cu dengan cara menyerap dan
mengakumulasikannya dalam jaringan tumbuhan (akar dan daun) mangrove, khususnya
Avicennia dan Rhizopora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akar mangrove
mengakumulasi Cu lebih banyak. Rata-rata kandungan logam Cu pada akar dan daun
Avicennia adalah 0,0035 ppm dan 0,0013 ppm, sedangkan pada akar dan daun
Rhizopora adalah 0,0028 ppm dan 0,0007 ppm. Akumulasi tersebut belum melebihi
ambang batas karena mangrove dapat menyerap Cu hingga 15 ppm. Akumulasi Cu pada
Avicennia yang lebih tinggi dibandingkan Rhizopora menunjukkan bahwa zona
terdepan hutan mangrove mengakumulasi logam berat lebih banyak dibandingkan
zona mangrove di belakangnya.
Kata kunci : tembaga (Cu), akar dan daun mangrove, Tanjung Api-api
Full text
http://jurnalmaspari.blogspot.com/2013/03/volume-5-nomor-1-januari-2013.html
Full text
http://jurnalmaspari.blogspot.com/2013/03/volume-5-nomor-1-januari-2013.html
Rabu, 02 Januari 2013
Total Organic Carbon Analysis
Step 1 for TOC water analysis equipment
Step 2 for TOC water analysis equipment
Step 2 for TOC water analysis equipment
Step 3 for TOC water analysis
Analysis TOC in sediment
Senin, 20 Februari 2012
Read Online Book (Ep. 2)
satu lagi buku bagus yang sayang untuk dilewatkan, belum ketemu link untuk donlot. Tapi sementara ini springerlink cukup baik hati dengan mengijinkan read online...
Label:
oceanography
Lokasi:
Palembang, Indonesia
Selasa, 17 Januari 2012
Pembekuan Lapisan Es
Ada soal : Jelaskan beda proses pembekuan lapisan es di
salinitas kurang dari 24,7 dengan salinitas lebih dari 24,7 ...
Jawabannya kira-kira begini :
Kira-kira sih inti penjelasannya seperti itu. Mudah-mudahan sedikit memberi pengetahuan...
Diambil dari :
Assignment 2 Oseanografi Fisika
with Prof. Mulia Purba
Related citation :
Jawabannya kira-kira begini :
Proses pembekuan lapisan es di perairan, baik di
perairan tawar maupun air laut, sangat bergantung pada densitas massa air yang
terdapat di perairan tersebut. Densitas adalah massa air per unit volume.
Densitas air tawar berbeda dengan air laut. Air tawar memiliki nilai densitas
yang lebih rendah daripada air laut, yaitu 1,00 g/cm3 untuk air
tawar dan 1,027 g/cm3 untuk air laut. Itulah sebabnya, air tawar
dapat “mengalir” di atas air laut. Densitas sangat penting karena dapat
mempengaruhi pergerakan massa air secara vertical. Massa air yang mengalami
perubahan densitas akan mengalami pergerakan secara vertical dan mengalami
proses konveksi.
Proses konveksi adalah proses pergerakan. Dalam
hal ini, pergerakan yang dimaksud adalah pergerakan massa air secara vertical.
Dimana massa air yang memiliki densitas lebih besar, sehingga lebih berat dan
memiliki suhu lebih dingin, akan tenggelam ke bawah. Massa air yang di
permukaan digantikan oleh massa air yang memiliki nilai densitas lebih kecil, lebih
ringan dan lebih hangat.
Densitas dipengaruhi oleh dua factor, yaitu suhu
dan salinitasnya. Densitas akan meningkat secara linier seiring dengan bertambahnya
nilai salinitas. Tetapi pengaruh suhu tidaklah demikian. Secara umum, penurunan
suhu akan mengakibatkan densitas meningkat. Namun hal itu terjadi selama air
berada di bawah suhu yang mengakibatkan densitas maksimum. Pada Gbr 1
terlihat, pada suhu 40C, densitas telah mencapai nilai maksimum
(1,00 g/cm3), sehingga bila suhu terus menurun hingga akhirnya
membeku, densitas justru akan mengalami penurunan juga.
Densitas yang berbeda pada air tawar dan air laut
juga menyebabkan proses pembentukan lapisan es pada keduanya juga berbeda.
Pembentukan es, selain dipengaruhi oleh nilai densitasnya, juga dipengaruhi
oleh suhu yang menjadi titik beku dan titik densitas maksimum.
Gbr 1. Diagram
temperature-density pada air tawar
(http://www.ourlake.org/html/density.html)
Pada air tawar, titik beku terjadi pada suhu 00C
dan titik densitas maksimum pada suhu 40C. Hal ini berarti air akan
melalui suhu yang memaksimumkan densitas massa air terlebih dahulu baru
kemudian melalui titik bekunya. Saat air mencapai suhu densitas maksimum, air
menjadi lebih ringan. Massa air tidak lagi mengalami proses konveksi. Penurunan
suhu yang terus terjadi akan mendinginkan massa air. Pendinginan terjadi hanya
pada lapisan wind mixed layer (campuran akibat angin) saja. Massa air pada
lapisan ini akan membeku dan kemudian menjadi lapisan es. Karena lapisan es
lebih ringan dibandingkan air, meskipun secara volume es lebih besar, es akan
terapung di atas air. Sedangkan pada lapisan air yang lebih dalam akan berisi
massa air yang memilikii densitas maksimum.
Berbeda dengan air tawar, pada air bersalinitas
tinggi tidaklah mudah terbentuk lapisan es. Sebagai pengingat, semakin tinggi
salinitas, maka makin besar pula nilai densitas. Air tawar memiliki densitas
yang lebih kecil sehingga proses pembentukan lapisan es pada air tawar lebih
mudah dibandingkan pada air bersalinitas tinggi. Gbr 2 menunjukkan titik
beku dan titik densitas maksimum pada suhu dan salinitas yang berbeda. Titik
pertemuan antara titik beku dan titik densitas maksimum adalah pada salinitas
24,7 ‰, pada suhu -1,3320C.
Gbr 2. Diagram
suhu dan salinitas
(http://faculty.uml.edu/Nelson_Eby/87.202/IMAGES/Temp/chlorinity)
Air yang bersalinitas kurang dari 24,7 ‰, memiliki
titik beku yang lebih rendah daripada titik densitas maksimum. Artinya massa
air akan melalui suhu yang menyebabkan densitas menjadi maksimum dan
berhentinya proses konveksi terlebih dahulu sebelum mencapai suhu yang
menyebabkan air menjadi beku. Pada air bersalinitas kurang dari 24,7 ‰ memiliki
prinsip yang sama seperti air tawar. Sehingga proses pembentukan lapisan esnya
juga sama seperti pembentukan es yang terjadi pada air tawar.
Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi massa
air yang memiliki salinitas di atas 24,7 ‰. Pada massa air bersalinitas lebih tinggi,
air akan melalui titik bekunya terlebih dahulu baru kemudian mencapai titik
densitas maksimum. Hal ini berarti selama terjadi proses pendinginan, dalam keseluruhan
kolom air masih terjadi proses konveksi vertical. Walaupun titik beku telah
dicapai, tetapi karena massa air masih terus bergerak, massa air berdensitas
besar bergerak ke bawah dan pada permukaan digantikan oleh massa air yang
berdensitas kecil, maka proses pendinginan yang seharusnya terjadi menjadi
diperlambat. Sehingga pada permukaan tidak terbentuk lapisan es, kecuali
pendinginan terjadi terus menerus dan dalam waktu yang lama, sehingga suhu
dapat mencapai titik di bawah titik densitas maksimum.
Kira-kira sih inti penjelasannya seperti itu. Mudah-mudahan sedikit memberi pengetahuan...
Diambil dari :
Assignment 2 Oseanografi Fisika
with Prof. Mulia Purba
Related citation :
Duxbury
AC, Duxbury AB. 1991. An Introduction To The Wolrds Oceans. 3rd
Edition. USA : W.M.C Brown Publisher
Stewart RH. 2002. Introduction to Physical Oceanography. Departmen of Oceanography
Texas Texas : A & M University.
Tomczak
M. 2000. An Introduction to Physical Oceanography.
Wilson
JD. 1989. Physics “A Practical and Conceptual Approach”. Second Edition. London
: Saunders Golden Sunburst series.
Jumat, 18 November 2011
Polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) - 2
Sumber dan Konsentrasi PAH di Sedimen
PAH pada sedimen merupakan PAH yang lebih banyak berasal dari hasil pirolisis maupun masukkan antrophogenic, meskipun juga terdapat PAH yang berasal dari atmosfer. Hasil pirolisis mengakibatkan sedimen memiliki konsentrasi PAH secara alami, namun hal ini berbeda dengan PAH yang merupakan masukkan antrophogenic. Neff (1979) mengklasifikasikan PAH berdasarkan sumbernya menjadi 2, yaitu :
1. Fosil yang tidak terbakar membentuk PAH dengan jumlah cincin kurang atau sama dengan (≤) 3 dengan proporsi alkyl tinggi
2. Hasil pirolisi fosil berupa PAH dengan jumlah cincin lebih atau sama dengan (≥) 4
PAH berasal dari 3 proses, yaitu pirolisis, petrogenik (pembentukan batuan), dan sumber diagenetik yang berlangsung dalam jangka waktu pendek. Pirolisis dan petrogenik menghasilkan PAH yang memiliki 3, 4, dan 5-6 cincin PAH. PAH dengan 3 cincin dihasilkan oleh proses petrogenik, sedangkan PAH dengan 4 dan 5-6 cincin oleh proses pirolisis (Muri dan Wakeham, 2009).
Konsentrasi PAH di lingkungan perairan sangat dipengaruhi oleh tingkat solubilitas dan keberadaan gugus nonpolar yang bersifat hidrofobik. Solubilitas PAH cenderung rendah, sehingga PAH cenderung berikatan dengan partikel organik dan anorganik dibandingkan berada dalam bentuk terlarut. Ikatan PAH dengan partikel mengakibatkan terjadi proses koagulasi, berat partikel makin bertambah dan kemudian jatuh ke sedimen. Semakin besar ukuran partikel maka makin banyak pula PAH yang berasosiasi dan makin tinggi konsentrasi PAH yang mengalami sedimentasi. Hal tersebut mengakibatkan konsentrasi PAH di sedimen lebih besar dibandingkan PAH di kolom air
Selain koagulasi partikel, konsentrasi PAH juga dipengaruhi oleh musim. Bouloubassi et al. (2006) menjelaskan bahwa saat musim semi dan panas, distribusi PAH didominasi oleh PAH yang memiliki berat molekul kecil, seperti phenathrene dan turunan alkylnya, dan PAH berat molekul sedang (sekitar 202), seperti fluoranthene dan pyrene. Pengendapan koagulasi PAH pada musim dingin didominasi PAH dengan berat molekul tinggi (≥ 252), terutama benzofluoranthene dan indeno[1,2,3-cd]pyrene. Hal tersebut diakibatkan adanya perbedaan suhu saat proses pirolisis terjadi, dimana bila pirolisis terjadi pada suhu yang tinggi, proses tersebut akan membentuk PAH dengan struktur yang sederhana. Demikian pula sebaliknya, pada suhu yang rendah, PAH yang dihasilkan akan menghasilkan gugus alkyl yang lebih panjang dan banyak. Keberadaan gugus alkyl tersebut, akan mengakibatkan kemampuan PAH untuk agregasi semakin tinggi dan partikel asosiasi yang dihasilkan akan semakin besar, sehingga PAH yang terbentuk adalah PAH dengan berat molekul besar (Neff, 1979)
Spesiasi PAH di Sedimen
Spesiasi PAH pada sedimen sangat dipengaruhi oleh kompleksitas sifat fisiokimia jenis PAH, sumber PAH, TOC (Total Organic Carbon), dan proses-proses yang mempengaruhi degradasi PAH. Sedimen yang terkena pengaruh runoff umumnya memiliki PAH dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan sedimen yang tidak terkena runoff. Peningkatan TOC dalam sedimen akan menyebabkan meningkatnya konsentrasi PAH dalam sedimen. Mengenai TOC, Opuene et al. (2007) menjelaskan bahwa terdapat hubungan linier antara TOC dan PAH pada sedimen, bahkan TOC mempengaruhi distribusi PAH dalam sedimen.
Pada umumnya, PAH yang memiliki berat molekul besar akan memiliki proporsi yang besar pula dalam rasio total PAH di sedimen. PAH yang terdapat pada permukaan sedimen juga akan berbeda dengan PAH pada sedimen dalam, hal ini karena adanya perbedaan formasi diagenetik yang terjadi dalam sedimen. PAH yang terdapat dalam sedimen, merupakan PAH yang memiliki berat molekul lebih besar dibandingkan PAH pada kolom air. Hal tersebut karena makin ringan molekul PAH, maka makin mudah molekul tersebut mengalami degradasi. Selain itu, PAH pada sedimen cenderung sedikit atau bahkan tidak mengalami oksidasi biologi atau fotooksidasi yang dapat mengakibatkan berkurangnya berat molekul PAH (Qiu et al., 2009).
Distribusi jenis-jenis PAH secara vertikal pada sedimen tidak hanya menunjukkan proses yang terjadi dalam sedimen, namun juga menunjukkan sumber PAH dan waktu akumulasi PAH terjadi. Penelitian Okuda et al. (2002) menunjukkan adanya dominasi benzo(ghi)perylene pada permukaan sedimen yang menunjukkan adanya dominasi sumber polutan PAH dari asap otomotif. Jenis PAH ini dianalisa dengan menggunakan bantuan isotop yang memberikan hasil bahwa akumulasi PAH tersebut terjadi pada tahun 1990.
Secara vertikal, dominasi PAH terjadi pada kedalaman tertentu dan jenis tertentu pula. Meski demikian, PAH terbanyak ditemukan pada permukaan hingga kedalaman 12 cm, dan PAH paling sedikit pada kedalaman 90-93 cm. Setiap jenis PAH mampu menunjukkan tingkat akumulasi, sumber pencemar maupun proses yang terjadi dalam sedimen, contohnya adalah perylene. Perylene merupakan hasil diagenesis alami melalui transformasi akhir pada awal diagenesis. Kawka dan Simoneit (1990), Jenkins et al. (1996), dan Simoneit dan Fetzer (1996) dalam Bakhtiari et al. (2009) menjelaskan bahwa hanya perylene yang berukuran kecil yang berasal dari pemaparan bahan organik pada suhu tinggi. Konsentrasi perylene meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman, menunjukkan bahwa perylene terbentuk dalam kondisi anoxic dan perylene tidak mengalami transpor menuju dan dari sedimen, melainkan terbentuk setelah terjadi deposisi (Orr dan Grady, 1967; Brown et al., 1972; Aizenshtat, 1973; Ishiwatari et al., 1980; Wakeham et al., 1980a,b; Heit et al., 1981; Gschwend et al., 1983; Wilcock dan Northcott, 1995; Lipiatou et al., 1996; Fernández et al., 1996; Silliman et al., 1998,2000,2001; Soclo et al., 2000; Grimalt et al., 2004; Luo et al., 2006; Unlu dan Alpar, 2006; dalam Bakhtiari et al., 2009)
Pada umumnya, PAH yang terdiri dari 5 cincin mendominasi komposisi PAH pada sedimen secara vertikal, menandakan bahwa jenis PAH ini lebih bersifat resisten terhadap degradasi microbial, selain disebabkan karena rendahnya solubilitas PAH yang memiliki berat molekul kecil (Bakhtiari et al., 2009).
Dominasi PAH yang memiliki 5 cincin, juga dikemukakan oleh Mohammed et al. (2009) yaitu konsentrasi PAH terendah pada sedimen adalah PAH yang memiliki 2 cincin (naphthalene, acenaphthalene) dan konsentrasi tertinggi adalah PAH dengan 5 cincin (benzo[b]fluoranthene, benzo[k]fluoranthene, benzo[a]pyrene). Bila dilakukan pengurutan, dominasi jenis PAH pada sedimen dari yang terbanyak adalah PAH 5 cincin, 4 cincin (fluoranthene, pyrene, benzo[a]anthracene, chrycene), 6 cincin (dibenzo[a,h]anthracene, benzo[ghi]pyrelene, dan indeno[1,2,3-cd]pyrene), 3 cincin (acenaphthene, fluorine, phenanthrene, anthracene), 2 cincin (naphthalene, acenaphtalene).
Meskipun demikian, dominasi jenis-jenis PAH secara vertikal dalam sedimen tidak sama satu daerah dengan daerah lainnya, mengingat kompleksitas proses alam yang terjadi juga berbeda di setiap daerah. Selain itu, komposisi PAH tersebut juga tergantung pada sumber masukkan PAH, jarak sumber dengan lokasi PAH, dna musim yang mempengaruhi fotooksidasi, volatilisasi, dan tingkat degradasi (Mohammed et al., 2009), dan jenis sedimen pada daerah tersebut (Witt, 1995). Sebagian besar PAH berasosiasi dengan sedimen yang memiliki ukuran partikel kecil dan sedang,
Kannan et al. (1999) menemukan bahwa di Jepang, benzo[b]fluoranthene mendominasi pada daerah permukaan sedimen hingga kedalaman 10 cm, dengan proporsi 15-20% dari total PAH yang ditemukan. Pada kedalaman 10-70 cm, lebih didominasi oleh jenis indeno(1,2,3-cd)pyrene, dan pada kedalaman di bawah 70 cm didominasi oleh PAH jenis phenanthrene. Komposisi vertikal tersebut tidak dijelaskan penyebabnya oleh Kannan et al. Komposisi tersebut berbeda dengan komposisi PAH di sedimen Danau Chini, Malaysia, dimana hingga kedalaman 6 cm naphthalene lebih mendominasi, kemudian perylene hingga sedimen dalam.
Rata-rata konsentrasi perylene bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman menunjukkan sumber perylene pada sedimen adalah dari erosi hujan dan transportasi hasil digesti mikroba, selain adanya tambahan pembentukan perylene secara diagenesis pada bagian bawah sedimen. Secara umum, hasil komposisi ini berbeda dengan komposisi PAH di sedimen pada lintang tinggi, namun untuk daerah tropis dan subtropics, komposisi PAH cenderung serupa (Bakhtiari et al.,2009)
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiari, A. R., Zakaria M. P., Yaziz M. I., Lajis M. N. Hj., Bi, X., dan Rahime, M. C. A. 2009. Vertical distribution and source identification of polycyclic aromatic hydrocarbons in anoxic sediment cores of Chini Lake, Malaysia : Perylene as indicator of land plant-derived hydrocarbons. Applied Geochemistry (24) : 1777–1787
Bouloubassi, I., Fillaux, J., dan Saliot, A. 2001. Hydrocarbon in surface sediments from the Changjiang (Yangtze River) Estuary, East China Sea. Marine Pollution Bulletin (42) : 1335-1346
Kannan, K., Yamashita, N., Villeneuve, D. L., Hashimoto, S., Miyazaki, A., dan Giesy, J. P. 1999. Vertical profile of dioxin-like and estrogenic potencies in a sediment core from Tokyo Bay, Japan. Organohalogen Compounds (42) :33 – 37
Mohammed, A. B., Al–Taee, M. M. S., dan Hassan, F. M. 2009. The study of some PAHs compounds in Euphrates River sediment from Al-Hindiya Barrageto Al- Kifil City – Iraq. CSASC English Ver. (4) : 216-230
Muri, G., dan Wakeham, S. G. 2009. Source assessment and sedimentary record of pyrolytic polycyclic aromatic hydrocarbons in Lake Bled (NW Slovenia). Acta Chim. Slov. (56) : 315-321
Neff, J. M. 1979. Polycyclic aromatic hydrocarbons in the aquatic environment. London, Applied Science Publishers Ltd.
Opuene, K., Agbozu, I. E., Ekeh, L. E. 2007. Identification of perylene in sediments : occurance and diagenetic evolution. Int. J. Environ. Sci. Tech (4) : 457-462
Okuda, T., Kumata, H., Naraoka, H., Ishiwatari, R., dan Takada, H. 2002. Vertical distributions and δ13C isotopic compositions of PAHs in Chidorigafuchi Moat sediment, Japan. Organic Geochemistry (7) : 843-848
Qiu, Y. W., Zhang, G., Liu, G. Q., Guo, L. L., Li, X. D., Wai, O. 2009. Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) in the water column and sediment core of Deep Bay, South China. Estuarine, Coastal and Shelf Science (83) : 60–66
Witt, H. 1995. Polycyclic aromatic hydrocarbons in water and sediment of the Baltic Sea. Marine Pollution Bulletin (4-12) : 237-248
Diambil dari :
Tugas MK. Dinamika Polutan
Pengampu : Prof. Dr. Harpasis S. Sanusi (2010)
Jumat, 14 Januari 2011
Polycyclic Aromatic Hidrocarbon (PAH) - (1)
Polycyclic aromatic hydrocarbon atau juga dikenal dengan polynuclear aromatic hydrocarbon (PAH) adalah anggota hidrokarbon yang terdiri dari dua atau lebih struktur cincin aromatic tertutup, dimana masing-masing struktur terdiri dari benzene. Secara umum, PAH memiliki sifat non polar hidrofobik, memiliki solubilitas rendah dan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya berat molekul PAH, dapat tergradasi melalui proses fotooksidasi.
Bentuk paling sederhana dari PAH adalah naphthalene, yang hanya terdiri dari dua cincin benzene, sedangkan bentuk PAH lainnya adalah anthracene (terdiri dari tiga cincin benzene), benzopyrene (pentacyclic hydrocarbon), benzofluoranthene (pentacyclic hydrocarbon), benzanthracene (C18H14), dibenzanthracene (C22H14), phenanthrene (tiga cincin benzene), pyrene, (empat cincin benzene) and perylene (C20H12) (Figure 1).
Jenis-jenis PAH tersebut memiliki karaktersitik tingkat sensitifitas terhadap fotooksidasi. Anthracene, phenanthrene, and benz[a]anthracene merupakan PAH yang paling sensitive terhadap fotooksidasi, sedangkan chrysene, fluorene, pyrene, and benzo[a]pyrene relative resisten terhadap fotodegradasi. Semakin meningkat intensitas cahaya dan konsentrasi oksigen yang diiringi dengan peningkatan suhu, mengakibatkan fotooksidasi yang berlangsung juga semakin cepat. Sedimen dalam yang cenderung sedikit cahaya atau bahkan tidak ada sama sekali, sedikit oksigen dan suhu yang rendah, mengakibatkan proses fotooksidasi yang terjadi dapat diabaikan pada proses alami.
Seluruh jenis PAH tersebut terdapat baik di kolom air maupun sedimen, namun tentu saja dengan konsentrasi yang berbeda-beda, tergantung pada sumber masukkan PAH dan waktu kontaminasi. Pada studi kasus tumpahan minyak di daerah pesisir Barat Laut Spanyol, saat awal terjadi tumpahan, naphthalene dan alkyl naphthalene merupakan PAH yang mendominasi kolom air. Namun 3 bulan kemudian, PAH berkurang 50% dan didominasi oleh jenis PAH yang memiliki 2-4 cincin benzene.
Related Cite :
González, J. J., Vinas, L. Franco, M. A., Fumega, J., Soriano, J. A., Grueiro. G., Muniategui, S., López-Mahía, P., Prada, D., Bayona, J. M., Alzaga, R., Albaigés, J. 2006. Spatial and temporal distribution of dissolved/dispersed aromatic hydrocarbons in seawater in the area affected by the Prestige oil spill. Marine Pollution Bulletin (53) : 250–259
Langganan:
Postingan (Atom)




